Budaya Ketergesaan



Doktrin kedisiplinan merupakan sesuatu yang disebut ahli kecepatan, Paul Virilio, sebagai dromologi, yakni budaya ketergesaan. Dromologi ini membuat manusia merasa seolah-olah dikejar sesuatu yang ia pun tak mengetahui pasti apa yang mengejarnya. Dromologi membuat manusia merasa harus mengejar target-target budaya. Kita dapat melihat bahwa doktrin disiplin ini membuat para murid tergesa-gesa. Kedisiplinan menjadi semacam kejaran yang menghantui alam sadar murid, menjadi tuntutan transenden di dalam pikiran.

Kita bisa mengambil satu contoh, yaitu murid yang harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Padahal, masih banyak hal yang belum mereka kerjakan. Ada kewajiban dan hak anak yang hilang akibat jam masuk sekolah yang terlalu pagi. Pekerjaan domestik membantu orang tua seperti memasak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah terabaikan. Hak murid untuk bercengkerama dan menerima kasih sayang keluarga di pagi hari juga hilang.

Murid dikejar-kejar sesuatu sehingga ia tergesa-gesa dan tak sempat memaknai kehidupannya. Doktrin disiplin ini sering kali dibalut alasan bahwa murid dapat bangun lebih pagi. Padahal, ketergesa-gesaan ini sebenarnya adalah ilusi budaya yang menjangkit kesadaran kita

Editor Fodic

Lebih baru Lebih lama