Islam mengajarkan keseimbangan (mīzan), kebersihan (ṭaharah), dan tanggung jawab (amanah). Nilai-nilai ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan sebagai penjaga yang wajib merawat dan melestarikannya. Dalam perspektif ini, aksi bersih-bersih, pengurangan plastik, pengelolaan sampah, hingga gaya hidup ramah lingkungan bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi merupakan ibadah sosial yang bernilai tinggi.
Selama ini, sampah sering kali hanya dipersepsikan sebagai barang sisa yang tidak berguna dan layak dibuang begitu saja. Dampaknya fatal, pembiasaan seperti berubah menjadi bencana yang merusak estetika, mengancam kesehatan, hingga menimbulkan penderitaan bagi masyarakat.
Jika ini dibiarkan, persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup bangsa. Menanggapi hal tersebut, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi mencanangkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026.
Gerakan Indonesia ASRI
Sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, sekolah didorong menjadi ruang yang bersih, tertata, dan mendukung proses belajar yang menyenangkan.
Lalu, seperti apa sebenarnya karakteristik sekolah yang ASRI? Dengan langkah sederhana seperti membersihkan sampah, menata tanaman, serta menjaga kerapian sekolah. Gerakan ini adalah salah satu upaya membangun kualitas hidup, menumbuhkan rasa bangga, dan meningkatkan daya tarik sekolah.
Intinya mewujudkan kepedulian lingkungan sekolah sebagai bagian dari gaya hidup. Dari langkah kecil—mengurangi plastik, memilah sampah, menanam pohon, hingga menghemat energi—akan lahir perubahan besar bagi masa depan bumi dan generasi mendatang
Gerakan “Indonesia Asri” harus dimaknai lebih dari sekedar aksi bersih-bersih. Ia harus menjadi gerakan moral dan budaya sekolah. Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan tidak akan selesai hanya dengan regulasi dan instruksi, tetapi memerlukan perubahan cara pandang, kesadaran kolektif, dan keteladanan.
Edukasi dan Peran Tokoh Masyarakat
Ada dua pilar utama untuk menyukseskan gerakan ini adalah pendidikan dan keteladanan. Sekolah menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini. Anak didik diharapkan menjadi "Duta Peduli Sampah" yang mengampanyekan perilaku bijak kelola sampah.
Sementara, tokoh agama dan masyarakat menjadi panutan untuk menebarkan pesan moral bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari kewajiban spiritual dan sosial.
*Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen.
