SMK, Mimpi, dan Realitas Dunia Kerja

Oleh Feri Irawan*

Saya punya mimpi soal SMK. Saya punya mimpi, agar sekolah kejuruan ini menjadi sarana untuk mendidik anak-anak muda untuk punya keterampilan, motivasi, dan disiplin, sehingga siap masuk ke dunia kerja. Mereka akan jadi pendukung pembangunan industri Indonesia.

Keinginan itu saya tuangkan ke berbagai kebijakan di sekolah. Diantaranya, penerapan budaya bersih dan resik,  membentuk disiplin, motivasi, dan etos kerja. Menurut saya, lulusan SMK tidak cukup hanya mahir teknis, tetapi juga harus dibekali etos kerja, kedisiplinan, dan karakter yang kuat untuk bersaing di pasar kerja yang kompetitif.

Saya  juga beberapa kali mengungkapkan perlunya transformasi SMK. Dalam berbagai kesempatan saya mengeluh soal sarpras SMK yang masih berkutat pada era 3.0, sementara tuntutan sekarang adalah hal-hal yang terkait dengan industri digital.

Sekitar 3 tahun yang lalu saya berjumpa langsung dengan Direktur Humas salah satu  Industri Elektronika terbesar di Indonesia di Jakarta saat bimtek SMK Pusat Keunggulan. Kebetulan saat itu, mereka sedang merumuskan program dukungan untuk pengembangan SMK. Saya memberanikan diri meminta pendapat soal apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh kalangan industri terhadap SMK dan lulusannya. Waktu itu kami berdiskusi cukup panjang. Banyak masukan yang beliau sampaikan.

Sementara, dari referensi relevan yang saya dapatkan, sejak 2014 banyak SMK dibangun. Sekolah-sekolah didirikan di seluruh Indonesia. Namun faktanya, nyaris tiap tahun tingkat pengangguran tertinggi justru ditempati oleh lulusan SMK.

Ini menunjukkan bahwa banyak SMK didirikan tapi tidak berdasarkan kebutuhan industri. Jika pun tersedia, tapi lapangan kerjanya terbatas hanya ada di Pulau Jawa atau di provinsi tertentu. Ini artinya, persoalan kuantitas lulusan yang tidak sesuai kebutuhan industri. Lagi pula,  tidak semua SMK mampu menghasilkan lulusan yang mempunyai softskill dan hardskill mumpuni. Padahal, soft skill ini sangat penting di dunia kerja, karena berkaitan dengan kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan komunikasi. 

Berdasarkan pengalaman pelaku industri, sangat sedikit lulusan SMK yang mempunyai kematangan sikap dan mental untuk siap menghadapi budaya kerja secara profesional. Misalnya, lulusan SMK jurusan teknik mesin, tetapi tidak bisa menggunakan mesin-mesin canggih yang dibutuhkan di industri.

Sebagai pengguna lulusan, dalam hal ini industri dunia usaha dan dunia kerja (iduka) tingkat serapan terhadap lulusan SMK hanya sekitar 10-40% dari jumlah pekerja lulusan SMA sederajat. Meski bergerak di bidang industri manufaktur, Iduka justru lebih banyak merekrut lulusan SMA ketimbang SMK.

Salah satu sebabnya adalah isi kurikulum SMK tidak jauh berbeda dengan kurikulum SMA. Selisihnya hanya 20%. Siswa SMK masih harus belajar pelajaran SMA umum seperti sejarah, kesenian, PKn, dan agama.  Komposisi khas sekolah kejuruan yang hanya 20% tadi sangat jauh dari cukup.

Pada prinsipnya perusahaan tidak berharap banyak pada kemampuan teknis calon karyawan setingkat lulusan SMA. Bukan tidak butuh, tapi sulit berharap. Yang penting mereka punya kemampuan logika dasar, ditambah disiplin dan motivasi yang baik, mereka bisa diterima. Soal kemampuan teknis, kami bisa melatih mereka setelah diterima.

Faktanya, para lulusan SMK kalah bersaing dengan lulusan SMA. Dari sisi kemampuan dasar dan disiplin, rata-rata mereka lebih rendah dari lulusan SMA. Sementara itu kemampuan teknis mereka juga tidak menonjol. Jadi tak ada alasan khusus bagi pengguna untuk merekrut lulusan SMK.

Dalam berbagai kesempatan saat dimintai pendapat soal ini, saya sampaikan bahwa hal mendesak yang harus dibenahi adalah soal disiplin dan etos kerja. Seperti saya ungkap di atas, bagi perusahaan itu lebih penting daripada kemampuan teknis. Ironisnya, citra SMK justru jauh dari itu. Citra SMK justru adalah tidak disiplin, dan nyaris identik dengan 'kenakalan dan kebrutalan".

Butuh Evaluasi dan Pembenahan 

Saya sangat sepakat jika harus ada evaluasi dan dilakukan perbaikan segera dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi. Pertama, adaptasi kurikulum, kerjasama dan pesanan DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri) ‘Bring Industry to schools’. 

Kedua, sarana-prasarana (sarpras). Masih banyak SMK yang tidak memiliki sarpras untuk praktik atau bahkan tidak ada.

Ketiga, kualitas dan kuantitas guru produktif yang mendidik dan melatih ketrampilan siswa. 

Keempat, kualitas akreditasi, pemberian ijin dan pencabutan ijin pendirian sekolah jika tidak memenuhi studi kelayakan atau dibawah SNP. 

Dan kelima, otonomi kelembagaan, kompetensi dan leadership kepala SMK.

Di samping perbaikan kurikulum, kompetensi guru, membenahi materi yang diajarkan, SMK perlu diubah dalam hal pendekatan. Ini bukan SMA biasa. Ini adalah tempat membina para calon pekerja industri. Para siswa harus dididik untuk sejak awal mengenal apa dan bagaimana industri itu. Yang lebih penting adalah, mereka harus dididik soal bagaimana seorang pekerja industri harus bersikap.

SMK memerlukan pendekatan khusus untuk membentuk disiplin, motivasi, dan etos kerja. Lulusan SMK tidak cukup hanya mahir teknis, tetapi juga harus dibekali etos kerja, kedisiplinan, dan karakter yang kuat untuk bersaing di pasar kerja yang kompetitif.

Inilah PR terbesar saya sebagai pimpinan sekolah. Tentu mewujudkan ini tidak bisa sendiri tanpa dukungan dari berbagai pihak, terutama internal sekolah,  anggaran, masyarakat, pemerintah daerah, legislatif, dan Iduka.  

*Penulis adalah kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen

Lebih baru Lebih lama