Saya mengajar di mushalla, di kafe, di perpustakaan, di bawah pohon rindang, pokoknya di mana pun ada napas dan rasa ingin tahu. Karena bagi saya, ilmu itu tidak tumbuh di ruang steril, tapi di tempat hidup berdenyut, di antara suara sendok beradu dengan gelas, di antara daun jatuh dan obrolan yang kadang lebih jujur dari seminar nasional.
Hari ini bahkan lebih radikal. Saya bawa siswa yang sering disebut generasi emas, untuk belajar di rumah saya sendiri. Sekalian lebaran. Sekalian realitas. Karena di negeri ini, kadang pelajaran paling penting justru tidak pernah masuk silabus.
Sejak tadi malam, istri saya sudah bekerja seperti logistik negara kecil yang bersiap menghadapi kunjungan kepala dunia. Kulkas dipenuhi sari kacang hijau, cincau, teh pucuk, puding, air mineral. Semuanya dingin, segar, dan menggoda iman siswa yang katanya sedang berpuasa ilmu. Di atas meja, kue kering berjajar seperti pasukan yang siap diserbu tanpa perlawanan. Benar saja, ketika mereka datang, tidak ada diskusi epistemologi, tidak ada debat filsafat. Yang ada hanyalah serangan kilat ke arah minuman dingin. Dalam hitungan detik, gelas-gelas itu berpindah tangan lebih cepat dari isu politik menjelang pemilu.
Di tengah mereka mengunyah nastar dengan kesungguhan yang jarang terlihat saat menggunakan gawai, saya mulai mengajar. Bukan teori rumit. Bukan rumus yang membuat dahi berkerut. Saya hanya bicara satu hal, kejujuran.
Ya, satu kata yang di negeri ini statusnya sudah seperti barang antik. Langka, mahal, dan sering dipajang tanpa pernah benar-benar dimiliki. Kita hidup di zaman di mana gelar akademik bisa berderet seperti kereta panjang, tapi ujungnya berhenti di stasiun penjara. Di mana orang bisa berbicara tentang integritas di podium, lalu menguburnya diam-diam di belakang meja.
Saya bilang ke mereka, belajar itu bukan sekadar berburu ijazah. Kalau hanya ingin selembar kertas, percayalah, di Pasar Pramuka bisa dicetak. Dengar itu, mereka ngakak. Tapi karakter? Itu tidak bisa disalin. Itu harus dibangun, dipelihara, dan sering kali diuji saat tidak ada yang melihat.
Saya lihat mereka mulai melambat mengunyah. Mungkin nastarnya tiba-tiba terasa lebih berat.
Saya lanjutkan. Belajar itu berat. Bukan karena tugas atau guru killer, tapi karena konsistensi. Karena godaan untuk berhenti itu selalu datang dengan wajah yang sangat ramah. Mulai nongkrong di kafe, rebahan sambil bilang “besok saja”, atau lebih parah lagi, berbohong pada orang tua. Izin belajar, tapi nyatanya nongkrong. Izin belajar, tapi yang dibuka justru layar lain yang tidak ada hubungannya dengan masa depan.
Di titik itu, saya tidak lagi berbicara sebagai guru. Saya bicara sebagai orang tua kedua. Saya bilang, saya anggap kalian anak sendiri. Seperti orang tua pada umumnya, tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat anaknya pintar, tapi tidak punya kejujuran. Berilmu tinggi, tapi gemar mengecewakan.
Ruangan itu tiba-tiba terasa berbeda. Tidak ada lagi suara gelas beradu. Tidak ada lagi tawa kecil. Hanya ada jeda, jenis jeda yang biasanya muncul ketika seseorang mulai berbicara dengan dirinya sendiri.
Saya tidak tahu berapa persen nasihat itu menempel di kepala mereka. Mungkin ada langsung lupa begitu keluar dari pintu. Mungkin ada baru ingat lima tahun lagi saat hidup menampar lebih keras dari guru mana pun. Tapi, kalau satu saja dari mereka benar-benar memahami, kejujuran itu lebih penting dari nilai Ijazah, maka belajar di ruang tengah, ditemani kue lebaran dan puding dingin itu, sudah jauh lebih bermakna dari seratus pertemuan di kelas formal.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal di mana kita duduk, tapi siapa kita saat berdiri.
Editor Fodic
