Nilai Rapor Tinggi Versus Hasil TKA Jemblok


Ini sebenarnya alarm besar bagi pendidikan kita. Bukan sekadar “nilai matematika anak rendah”, tapi potret tentang bagaimana sistem belajar kita selama ini bekerja.

Nilai rerata Matematika SD hanya 43,41 dan SMP 40,34. Bahkan Bahasa Indonesia pun hanya sekitar 60-an. Kalau benar data ini valid dan representatif nasional, maka ada beberapa hal penting yang bisa kita dibaca.

Pertama, budaya belajar kita masih terlalu berbasis hafalan. Anak-anak terbiasa mengerjakan soal model rutin: “diketahui–ditanya–jawab.” Tetapi ketika soal diubah menjadi persoalan kehidupan sehari-hari yang harus dipahami dulu konteksnya, banyak yang langsung buntu. Artinya, kemampuan bernalar, membaca masalah, dan menghubungkan konsep masih lemah.

Kedua, ini bukan cuma masalah siswa. Ini juga potret sistem pendidikan kita. Selama bertahun-tahun sekolah kita sering lebih sibuk mengejar angka rapor, kelulusan, administrasi, dan target kurikulum yang padat. Guru akhirnya terdorong mengejar “materi selesai”, bukan memastikan murid benar-benar paham.

Padahal bernalar itu tidak bisa dibangun lewat drilling terus-menerus. Bernalar lahir dari diskusi, membaca panjang, bertanya, mencoba salah, lalu memperbaiki.

Ketiga, ada pengaruh serius dari budaya digital pendek-cepat-instans. Anak sekarang sangat akrab dengan video 15 detik, scrolling tanpa henti, dan informasi yang serba cepat.

Akibatnya daya tahan membaca teks panjang menurun. Fokus melemah. Padahal soal HOTS menuntut konsentrasi dan ketekunan berpikir.

Ironisnya, di sekolah kita sering menganggap anak pintar adalah anak yang cepat menjawab. Padahal kadang berpikir yang mendalam justru membutuhkan waktu lambat.

Yang menarik, TKA ini bisa menjadi cermin yang lebih jujur dibanding sekadar nilai rapor. Karena selama ini publik sering curiga ada inflasi nilai di sekolah. Rapor tinggi, tapi kemampuan dasar membaca dan matematika ternyata belum kuat.

Namun ada hal yang juga perlu hati-hati. Jangan sampai hasil TKA ini malah membuat pendidikan kembali hanya berorientasi tes.

Karena tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang jago mengerjakan soal, tetapi manusia yang mampu berpikir, berkarakter, kreatif, dan punya daya hidup.

Kalau tidak hati-hati, nanti sekolah hanya berubah menjadi tempat kursus persiapan TKA nasional.

Editor Fodic

Sumber Story FB Rohmani.id 29 Mei 2026

Lebih baru Lebih lama