Mak, Mana Uang Saku?



Coba tanya orang tua di desa. Apa beban yang paling berat setiap pagi? Jawabannya uang saku. 

Anak berangkat sekolah tanpa uang di kantong. Tidak bisa membeli minum. Tidak bisa jajan bersama teman-temannya. Hal-hal kecil seperti ini perlahan menggerus semangat untuk sekolah.

Mungkin sudah saatnya pemerintah memikirkan alternatif yang lebih sederhana. Untuk anak-anak dari keluarga miskin, anggaran Makan Bergizi Gratis bisa dipertimbangkan dalam bentuk uang saku sekitar Rp5.000 per hari atau bantuan tunai dengan nilai yang setara. Uangnya langsung diterima siswa.

Tidak perlu dapur besar. Tidak perlu distribusi yang panjang. Tidak perlu rantai pengadaan yang rumit. Yang bergerak justru ekonomi rakyat.

Anak membeli makanan di kantin sekolah. Jajan di warung depan sekolah. Pedagang kecil tetap hidup. Kantin sekolah tetap ramai. Uang berputar di lingkungan sekolah, bukan berhenti di sistem pengadaan. 

Negara tetap membantu anak. Tetapi sekaligus menghidupkan ekonomi keluarga kecil di sekitar sekolah.

Karena kadang, yang dibutuhkan seorang anak untuk tetap bersekolah bukan program yang semakin besar. Melainkan lima ribu rupiah di sakunya setiap pagi.

Di sunting oleh Feri Fodic 

Sumber story FB Rohmani.id

Lebih baru Lebih lama