Harian Kompas (11/4/2026) memberitakan rendahnya nilai numerasi dan literasi dalam tes kemampuan akademik di tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas Indonesia. Dalam pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA) sekolah menengah atas (SMA), nilai TKA SMA pada mata pelajaran Matematika secara rata-rata sebesar 36,1 dan Bahasa Indonesia adalah 55,38. Nilai TKA sekolah menengah pertama (SMP) pun tidak jauh berbeda.
Rendahnya pencapaian itu bukanlah hasil yang muncul tiba-tiba. Ini merupakan buah dari pembelajaran panjang siswa sejak jenjang pendidikan dasar dan erat hubungannya dengan metode pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan. Siswa lebih sering dilatih untuk menjawab soal dengan pola serupa daripada diajak memahami konsep secara utuh. Akibatnya, ketika dihadapkan pada soal-soal yang tuntutan penalaran dan analisis, banyak siswa kesulitan.
Pengalaman Budaya
Darinya kita bisa berefleksi bagaimana sebenarnya pola pengajaran matematika yang selama ini dilakukan. Karena jika kita memahaminya, masyarakat kita sebenarnya tidak pernah benar-benar asing dengan matematika. Ia hidup dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Anak-anak di kampung memahami konsep “lebih banyak” dan “lebih sedikit” jauh sebelum mengenal angka. Pedagang di pasar tradisional terbiasa melakukan tawar menawar, menghitung kembali dan memperkirakan harga tanpa kalkulator.
Petani di desa juga mengatur jarak tanam, membaca musim dan menghitung hasil panen dengan logika presisi meskipun tidak pernah disebut sebagai “rumus”. Sementara perajin batik di Pekalongan dan penenun di Nusa Tenggara menyusun pola lipatan dan simetri yang kompleks. Ini bukan sekedar keterampilan, tapi bentuk matematika yang hidup dalam kebudayaan.
Masalah muncul ketika matematika masuk sekolah. Di ruang kelas, matematika berubah menjadi angka-angka di papan tulis, rumus dan prosedur yang harus diikuti. Anak tidak lagi diajak memahami, tapi menyesuaikan diri dengan simbol.
Kita bahkan sering menyalahkan anak karena “tidak bisa matematika”, padahal berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa pembelajaran matematika seharusnya bergerak dari yang konkret ke abstrak, dari pengalaman nyata menuju simbol.
Yang terjadi di sekolah justru sebaliknya. Anak dimulai pada simbol sebelum pengalaman. Mereka diminta mengerti sebelum benar-benar mengalami. Di dalam matematika kehilangan konteksnya, dan pada saat yang sama, kehilangan maknanya.
Ketika pendidikan hanya mengakui satu bentuk metode matematika, yang formal dan abstrak, ia secara tidak langsung menyingkirkan bentuk-bentuk lain yang sebenarnya lebih dekat dengan kehidupan anak. Dengannya, kita sedang mengajarkan matematika dengan cara yang tidak berangkat dari pengalaman kultural siswa itu sendiri. Akibatnya, anak belajar sesuatu yang terasa asing, padahal ia sebenarnya sudah “mengerti” dalam bentuk lain. Buktinya tercermin pada fakta yang dikutip di awal tulisan ini.
Wacana Pendidikan Modern
Di sisi lain, dalam wacana pendidikan modern, matematika sering dikaitkan dengan kemampuan bernalar, berpikir logis dan memecahkan masalah. Dalam hal ini, matematika sebagai cara berpikir tidak salah. Bahkan di dunia yang dipenuhi data, grafik dan informasi, kemampuan membaca dan memahami angka menjadi semakin penting.
Tapi ada satu hal yang terlewat. Bahwa logika matematika bukan satu-satunya cara memahami dunia.
Dalam praktik pendidikan kita, matematika sering diajarkan dengan logika yang sangat ketat. Jawaban harus tepat, langkah harus sesuai dan kesalahan harus dihindari. Pola ini membentuk cara berpikir uang linier dan biner, benar atau salah. Sementara kehidupan nyata, khususnya dalam konteks sosial Indonesia, jauh lebih kompleks dari itu.
Teori
Keputusan dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu berdasarkan hitungan rasional. Ada pertimbangan sosial, budaya bahkan perasaan. Seorang pedagang tidak hanya menghitung keuntungan kerugian, tetapi juga menjaga hubungan dengan pelanggan. Seorang petani tidak hanya mengandalkan perhitungan musim, tetapi juga membaca tanda-tanda alam yang tidak selalu bisa diukur. Ketika pendidikan terlalu menekan satu jenis logika, kita berisiko memicu cara manusia memahami dunia.
Dampaknya bisa terasa secara konkret di ruang kelas. Banyak siswa yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu tinggi, tapi kehilangan minat karena matematika diajarkan sebagai sesuatu yang kaku. Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya anak-anak memiliki persepsi positif terhadap matematika, yang kemudian memudar seiring pengalaman belajar yang tidak menyenangkan.
Di titik ini, masalahnya bukan pada anak, tapi pada pengalaman belajar yang alami. Kita bisa melihat contoh sederhana di berbagai daerah. Ada sekolah yang mengajarkan matematika dengan menghitung daun di kebun, mengukur panjang kayu atau membagi hasil panen.
Di tempat seperti ini, matematika terasa hidup. Anak tidak hanya memahami, tapi juga menikmati. Tapi praktik seperti ini belum jadi metode utama. Banyak pembelajaran yang masih berpusat pada soal dan jawaban, bukan pada pengalaman dan pemahaman. Ironi itu muncul.
Di satu sisi, kita mendorong matematika sejak dini dengan alasan membangun kemampuan berpikir. Di sisi lain, cara kita mengajarkannya justru sering mematikan proses berpikir itu sendiri. Anak dibor untuk mencari jawaban yang benar, bukan untuk memahami proses.
Maka kita perlu membiasakan mempelajari matematika sejak dini. Bukan pada soal mempercepat anak menguasai angka, tapi membangun cara berpikir melalui pengalaman yang dekat dengan hidupnya. Dalam konteks Indonesia, itu berarti matematika dimulai sebagai bagian aktivitas sehari-hari seperti menghitung kembalian di warung, membagi makanan, membaca perubahan harga atau mengenali pola dalam permainan tradisional.
Anak tidak diajak menghafal rumus dengan lebih cepat, tetapi dibor untuk memahami hubungan, perbandingan, dan sebab-akibat lewat yang alami mereka sendiri. Di sini, matematika tumbuh sebagai bahasa untuk membaca kenyataan, bukan sekadar materi pelajaran.
Implementasi sebenarnya menuntut perubahan pendekatan, bukan sekadar penambahan materi. Dalam hal ini, guru dapat membentuk konsep dengan konteks lokal seperti pertanian, perdagangan, atau kerajinan. Artinya, matematika tidak berdiri terpisah dari budaya tetapi justru menempel pada praktik kehidupan masyarakat. Dengan cara ini, anak tidak merasa sedang mempelajari sesuatu yang asing, namun sedang memahami dunia yang sudah mereka kenal sejak awal dengan lebih dekat, lebih masuk akal, dan lebih manusiawi.
Penulis Purnawan Andra
Editor Feri Fodic
Tulisan ini telah tayang di omong-omong.com
