Filosofi Ubuntu

 


Ada sebuah filosofi hidup kuno yang sangat indah di Afrika Selatan. Namanya "Ubuntu". Filosofi ini sering diterjemahkan sebagai "Aku ada karena kita ada".

Ubuntu mengajarkan bahwa seorang manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Kebahagiaan, kesuksesan, bahkan identitas diri seseorang selalu terbentuk lewat hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Nelson Mandela pernah merangkum inti filosofi ini lewat satu pertanyaan sederhana yang sangat membekas. "Apakah kamu melakukan sesuatu untuk memajukan komunitasmu, atau hanya untuk memajukan dirimu sendiri?"

Kalau jujur pada diri sendiri, sebagai pendidik kadang ada kalanya kita terjebak pada keinginan untuk maju sendirian. Kita fokus mengejar prestasi pribadi, mengumpulkan sertifikat, atau sibuk menampilkan kelas kita yang paling menonjol. Strategi atau metode mengajar yang berhasil sering kali kita simpan sendiri, tanpa ada ruang untuk berbagi dengan rekan guru di sebelah ruangan.

Padahal, jika mengacu pada filosofi Ubuntu, seorang guru tidak akan pernah benar-benar bisa sukses sendirian di tengah sekolah yang meredup.

Seorang guru sehebat apa pun akan tetap merasa kelelahan jika harus berjuang sendirian tanpa dukungan dari komunitas sesama guru di sekolahnya.

Ketika ada guru yang menemukan metode mengajar yang seru, lalu dengan tulus membagikannya di ruang guru, seluruh ekosistem sekolah ikut terangkat.

Saling Menopang Saat Lelah. Ada hari-hari di mana kita merasa kehabisan energi. Di momen itulah keberadaan rekan guru yang saling dukung bukan saling saing menjadi bahan bakar utama agar kita tidak mati gaya.

Ketika nilai Ubuntu ini sudah hidup di antara para gurunya, secara otomatis energi itu akan menular ke anak-anak di kelas.

Pembahasannya tidak perlu rumit. Anak-anak tinggal melihat contoh nyata dari gurunya. Di kelas, mereka belajar bahwa sukses itu tidak harus saling sikut demi menjadi ranking satu sendirian.

Siswa diajak untuk melihat bahwa saat temannya berhasil, itu adalah kemenangan bersama yang layak dirayakan. Dan saat ada kawan yang ketinggalan, merangkul mereka adalah wujud dari karakter yang jauh lebih tinggi dari sekadar angka di lembar rapot.

Filosofi Ubuntu membawa pengingat yang lembut namun dalam. Seseorang tidak akan pernah bertumbuh maksimal jika ia terisolasi. Kita menjadi versi terbaik dari diri kita justru karena ada orang lain yang ikut menopang dan menguatkan langkah kita.

Guru yang hebat bukan sekadar guru yang bersinar sendirian di kelasnya, melainkan guru yang mampu membuat guru-guru di sekitarnya ikut bersinar bersama.

Editor Feri Fodic

Lebih baru Lebih lama