Ini viral minggu ini. Tapi coba tanya balik: siapa sih yang paling banyak nganggur di Indonesia? Jawabannya bukan sarjana.
Data BPS, Mei 2026: dari 7,22 juta penganggur nasional, lulusan SMA itu 2 juta orang (28 persen), SMK 1,6 juta (22 persen). Sarjana? 1 juta (cuma 14 persen). Setengahnya dari SMA.
Jadi klaimnya benar secara angka. Tapi kalau dibaca "sarjana adalah masalah pengangguran terbesar": itu salah baca. Secara jumlah, lulusan SMA dan SMK masih dua kali lipat lebih banyak.
Tapi, dan ini yang jarang dibahas, porsi sarjana ini yang naik paling cepat. 2022 cuma 8 persen dari total penganggur. Sekarang 14 persen. Naik terus, empat tahun berturut-turut.
Artinya bukan soal siapa yang paling banyak hari ini. Tapi siapa yang trennya paling curam. Dan itu sarjana, sementara TPT tingkat Pengangguran Terbuka nasional keseluruhan justru turun.
Jadi pertanyaannya bukan lagi "berapa sarjana nganggur." Tapi, kenapa gelar sarjana makin lama makin nggak jadi jaminan? Itu yang perlu kita bedah.
Tiga Faktor yang Disebut Para Pakar
Kenapa sarjana makin susah kerja? Bukan cuma satu sebab. Ada tiga faktor yang terus-menerus disebut para pakar.
Pertama, skills mismatch. Menurut pengamat kebijakan publik UI, Eko Prasodjo, kompetensi lulusan kita belum sepenuhnya nyambung sama kebutuhan kerja sekarang, dunia kerja berubah cepat karena digitalisasi, kampus nggak selalu ngikutin secepat itu.
Kedua, jumlah lulusan tumbuh lebih cepat dari lapangan kerja. Guru Besar FEB UGM, Agus Sartono, bilang ini ketidakseimbangan suplai dan daya serap. Masuk akal, persentase penduduk lulus PT naik dari 10,2 persen ke 11 persen cuma dalam setahun.
Ketiga, kompetisi makin ketat. Data Jobstreet Maret 2026: satu lowongan kerja rata-rata diserbu 500 sampai 600 pelamar. Untuk posisi tertentu di perusahaan besar, bisa ribuan.
Pemerintah punya program vokasi 340 ribu kuota, plus magang nasional 150 ribu kuota. Totalnya 490 ribu. Sementara sarjana yang nganggur itu 1 juta lebih.
Jadi solusinya bukan cuma nambah pelatihan. Tiga akar masalah ini butuh dibenahi bareng-bareng. Share kalau ini penting buat kamu.
Penulis Rohmani
Sumber Story FB Rohmani.id
