Dulu banyak orang tua berkata: "Masuk keguruan saja. Jadi PNS, hidup aman sampai pensiun.”
Narasi itu dulu masuk akal. Jalurnya jelas: Lulus, jadi honorer, ikut seleksi, diangkat ASN.
Sekarang kondisinya berbeda. Mengapa?
Pertama, jalur honorer praktis ditutup. Sekolah negeri tidak lagi bebas mengangkat honorer baru. Sistem pendataan resmi sudah diperketat. Tanpa masuk sistem, tidak ada jalan menuju ASN. Artinya, lulusan baru kehilangan batu loncatan awal.
Kedua, prioritas untuk honorer lama. Pemerintah fokus menyelesaikan status honorer lama melalui PPPK. Kebijakan ini adil bagi yang sudah lama mengabdi, tetapi membuat ruang bagi lulusan baru semakin sempit. Rekrutmen umum tidak lagi seluas dulu.
Ketiga, PPG bukan jaminan pekerjaan. PPG memang meningkatkan kompetensi dan memberi sertifikat pendidik. Namun sertifikat tidak otomatis berarti tersedia formasi. Masalah utamanya bukan kualitas lulusan, tetapi terbatasnya kebutuhan rekrutmen.
Keempat, wacana alih fungsi jabatan. Ada pembahasan bahwa kekurangan guru bisa diatasi dengan optimalisasi ASN yang sudah ada. Jika ini terus diterapkan, kebutuhan rekrutmen guru baru bisa semakin ditekan.
Kelima, sekolah swasta jadi alternatif. Ketika negeri menyempit, swasta menjadi pilihan. Namun jumlah lulusan keguruan tiap tahun sangat banyak, sementara daya tampung dan standar gaji sekolah swasta sangat beragam. Persaingan tinggi, kepastian finansial belum tentu stabil.
Kesimpulan
Menjadi guru tetap profesi mulia dan sangat dibutuhkan. Namun menjadikannya sebagai “jalur aman pasti jadi ASN” sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang.
Jika anak ingin masuk jurusan keguruan, pastikan:
- Ia memang punya panggilan mengajar
- Ia siap dengan kemungkinan jalur non-ASN
- Ia memiliki rencana cadangan
- Ia mengembangkan skill tambahan di luar mengajar formal
Di era sekarang, memilih jurusan bukan hanya soal cita-cita, tetapi juga strategi dan kesiapan menghadapi realitas.
Editor Feri Fodic
Sumber Story FB Informasi Pendidikan Indonesia
